Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja merupakan konflik teritorial berkepanjangan yang berpusat pada kepemilikan situs bersejarah, terutama Kuil Preah Vihear. Pada tahun 2025, ketegangan ini kembali memuncak menjadi pertempuran bersenjata yang signifikan.
Berikut adalah artikel lengkap mengenai sejarah dan perkembangan terbaru konflik tersebut:
1. Akar Masalah: Warisan Kolonial
- Konflik ini berakar dari perbedaan interpretasi peta perbatasan yang dibuat oleh Prancis pada tahun 1907.Kamboja: Berpegang pada peta kolonial Prancis yang menempatkan Kuil Preah Vihear di wilayahnya.
- Thailand: Menganggap batas wilayah seharusnya mengikuti garis pemisah air (watershed) alami, yang secara geografis menempatkan kuil tersebut di pihak Thailand.
Pada tahun 1962 dan dipertegas kembali pada 2013, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa kuil tersebut milik Kamboja, namun sengketa atas lahan seluas 4,6 km² di sekitarnya tetap menjadi titik api konflik.
2. Eskalasi Konflik di Tahun 2025
Setelah sempat mereda sejak 2011, pertempuran besar kembali pecah di sepanjang tahun 2025 dengan beberapa fase utama:
- Mei – Juni 2025: Ketegangan meningkat di wilayah Emerald Triangle setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak.
- Juli 2025: Pertempuran hebat pecah di Distrik Kap Choeng (Provinsi Surin, Thailand) dan Provinsi Oddar Meanchey (Kamboja). Insiden ini dipicu oleh ledakan ranjau darat yang melukai tentara Thailand dan deteksi drone militer di wilayah sengketa.
- Desember 2025: Thailand melancarkan serangan udara terhadap apa yang mereka sebut sebagai pusat militer rahasia dan fasilitas drone di Kamboja.
3. Dampak Pertempuran
Konflik tahun 2025 tercatat sebagai salah satu yang terburuk dalam satu dekade terakhir:
- Korban Jiwa: Dilaporkan sedikitnya 43 orang tewas dalam berbagai rangkaian bentrokan.
- Pengungsi: Lebih dari 200.000 warga sipil terpaksa mengungsi ke pusat-pusat evakuasi.
- Kerusakan Warisan Budaya: Kamboja melaporkan kerusakan parah pada struktur Kuil Preah Vihear akibat serangan artileri dan udara.
4. Upaya Perdamaian dan Gencatan Senjata
Berbagai pihak internasional telah turun tangan untuk memediasi kedua negara:
- Mediasi Malaysia & ASEAN: Malaysia berperan aktif sebagai penengah dalam perundingan di Kuala Lumpur.
- Intervensi Global: Sekretaris Jenderal PBB dan tokoh internasional seperti Donald Trump dilaporkan ikut menekan kedua pihak untuk menghentikan agresi melalui ancaman sanksi ekonomi.
- Status Terkini (2025): Pada 27 Desember 2025, kedua negara akhirnya menandatangani perjanjian gencatan senjata baru setelah pertempuran sengit di bulan Desember.
5. Dimensi Politik di Balik Perang
Selain masalah wilayah, pengamat menyoroti adanya perseteruan personal antara elit politik kedua negara, khususnya antara dinasti Shinawatra di Thailand dan keluarga Hun di Kamboja. Bocornya rekaman percakapan pribadi antar pemimpin negara tersebut turut memperburuk hubungan diplomatik dan memicu sentimen nasionalisme di kedua belah pihak.
0 Komentar