Perang Iran-Irak, yang juga dikenal sebagai Perang Teluk I, adalah salah satu perang konvensional terlama dan paling mematikan di abad ke-20 yang berlangsung dari September 1980 hingga Agustus 1988. Konflik ini tidak meletus secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari perselisihan sejarah, sengketa wilayah, dan benturan ideologi yang tajam.
Berikut adalah artikel detail mengenai awal mula terjadinya perang tersebut:
1. Sengketa Wilayah Shatt al-Arab
Akar masalah teritorial utama adalah perebutan kendali atas Shatt al-Arab (Arvand Rud di Iran), sebuah sungai strategis yang menjadi muara pertemuan Sungai Eufrat dan Tigris ke Teluk Persia.
- Bagi kedua negara, jalur air ini sangat krusial untuk ekspor minyak dan akses ke perdagangan laut dunia.
- Pada tahun 1975, melalui Perjanjian Algiers, kedua negara sepakat untuk membagi batas wilayah di tengah sungai (thalweg). Namun, Saddam Hussein merasa terhina oleh perjanjian ini karena dianggap memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran.
2. Dampak Revolusi Iran 1979
Jatuhnya Shah Iran yang pro-Barat dan bangkitnya Ayatollah Khomeini melalui Revolusi Islam 1979 mengubah peta politik kawasan secara radikal.
- Benturan Ideologi: Irak di bawah Saddam Hussein merupakan negara sekuler dengan ideologi Pan-Arab (Partai Ba'ath), sementara Iran beralih menjadi Republik Islam Syiah.
- Ketakutan akan Ekspor Revolusi: Saddam khawatir semangat Revolusi Iran akan menjalar ke mayoritas populasi Syiah di Irak untuk menggulingkan pemerintahannya. Sebaliknya, Teheran secara terang-terangan menyerukan rakyat Irak untuk melakukan pemberontakan.
3. Sengketa Provinsi Khuzestan
Saddam Hussein juga memiliki ambisi untuk mencaplok Provinsi Khuzestan di barat daya Iran. Wilayah ini sangat strategis karena:
- Merupakan daerah yang kaya akan cadangan minyak bumi.
- Memiliki populasi etnis Arab (Arabistan) yang menurut Irak harus "dibebaskan" dari kekuasaan Persia.
4. Peluang Geopolitik Irak
Pada tahun 1980, Saddam melihat Iran berada dalam titik terlemahnya akibat kekacauan pasca-revolusi. Militer Iran sedang mengalami pembersihan internal dan hubungan mereka dengan Barat (terutama Amerika Serikat) terputus akibat krisis sandera diplomatik. Saddam yakin serangan kilat akan memberikan kemenangan cepat bagi Irak.
5. Eskalasi dan Pecahnya Perang (September 1980)
Ketegangan memuncak melalui serangkaian insiden perbatasan di sepanjang tahun 1980.
- 17 September 1980: Saddam Hussein secara sepihak membatalkan Perjanjian Algiers 1975 di depan siaran televisi nasional dan mengklaim seluruh Shatt al-Arab sebagai milik Irak.
- 22 September 1980 (Invasi Besar): Irak melancarkan serangan udara mendadak ke 10 pangkalan udara Iran untuk melumpuhkan kekuatan udara musuh, diikuti dengan invasi darat besar-besaran melintasi perbatasan sepanjang 644 km.
Meskipun awalnya Irak berhasil merebut beberapa wilayah seperti kota Khorramshahr, mereka meremehkan ketahanan rakyat Iran yang segera melakukan mobilisasi nasional. Serangan yang tadinya direncanakan sebagai "perang kilat" berubah menjadi perang parit statis yang melelahkan selama delapan tahun berikutnya.

0 Komentar