Perang Irak-Kuwait, yang menandai awal mula Perang Teluk II (sering disebut Perang Teluk I dalam literatur Barat), merupakan salah satu konflik geopolitik paling signifikan di akhir abad ke-20. Invasi militer yang dimulai pada 2 Agustus 1990 ini dipicu oleh krisis ekonomi mendalam dan sengketa sumber daya alam.
1. Krisis Ekonomi Pasca-Perang Iran-Irak
Akar masalah utama adalah kondisi finansial Irak yang hancur setelah perang delapan tahun melawan Iran (1980–1988).
- Beban Utang: Irak memiliki utang sekitar 15 miliar dolar AS kepada Kuwait. Saddam Hussein menuntut penghapusan utang tersebut, mengklaim bahwa Irak telah berkorban demi melindungi negara-negara Teluk dari pengaruh Revolusi Iran.
- Kejatuhan Harga Minyak: Irak menuduh Kuwait sengaja memproduksi minyak melebihi kuota OPEC guna menurunkan harga pasar dunia. Penurunan harga minyak ini sangat memukul pendapatan negara Irak yang tengah berupaya melakukan rekonstruksi pasca-perang.
2. Sengketa Ladang Minyak Rumaila
Irak melontarkan tuduhan serius bahwa Kuwait melakukan praktik pengeboran miring (slant drilling) di ladang minyak Rumaila. Ladang ini terletak di wilayah perbatasan yang disengketakan, dan Irak mengklaim Kuwait telah mencuri minyak mereka senilai miliaran dolar.
3. Klaim Historis: "Provinsi ke-19"
Secara ideologis, Saddam Hussein membangkitkan klaim iredentisme bahwa Kuwait secara historis adalah bagian integral dari Irak.
- Irak berpendapat bahwa di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, Kuwait merupakan bagian dari Provinsi Basra.
- Saddam mengeklaim bahwa Inggris telah memisahkan Kuwait secara ilegal untuk menciptakan negara penyangga. Pasca-invasi, Irak secara resmi memproklamasikan Kuwait sebagai provinsi ke-19.
4. Kegagalan Diplomasi Terakhir
Sebelum serangan dimulai, terjadi upaya diplomasi terakhir melalui pertemuan di Jeddah pada 31 Juli 1990 antara delegasi Irak dan Kuwait. Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa hasil karena arogansi timbal balik; Irak bersikeras pada tuntutan ekonominya sementara Kuwait menolak memberikan konsesi tanpa jaminan keamanan perbatasan.
5. Invasi dan Pendudukan (2 Agustus 1990)
Setelah kegagalan diplomasi, Saddam Hussein memerintahkan pasukan elit Garda Republik untuk menyerbu Kuwait pada dini hari 2 Agustus 1990.
- Keunggulan Militer: Pasukan Irak yang berjumlah sekitar 100.000 personel dengan mudah melumpuhkan militer Kuwait yang jauh lebih kecil.
- Penguasaan Kilat: Dalam waktu kurang dari 24 jam, Irak berhasil menduduki seluruh wilayah Kuwait, termasuk ibu kota Kuwait City, dan memaksa Emir Kuwait melarikan diri ke Arab Saudi.
Invasi ini memicu reaksi keras dunia internasional yang berujung pada resolusi PBB dan pembentukan koalisi militer pimpinan Amerika Serikat untuk mengusir Irak melalui Operasi Badai Gurun pada Januari 1991.

0 Komentar