Krisis Kemanusiaan Di Sudan

Krisis Sudan
Awal pembantaian dan krisis kemanusiaan di Sudan berakar dari perseteruan kekuasaan yang panjang, yang memuncak pada perang saudara besar sejak April 2023. Hingga Januari 2026, konflik ini telah menyebabkan lebih dari 150.000 kematian dan memaksa 14 juta orang mengungsi.

1. Akar Konflik: Persaingan Dua Jenderal

Pembantaian ini dipicu oleh pecahnya kongsi antara dua faksi militer utama yang sebelumnya bekerja sama menggulingkan Presiden Omar al-Bashir (2019) dan pemerintah transisi (2021):
  • SAF (Sudanese Armed Forces): Tentara nasional resmi yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan.
  • RSF (Rapid Support Forces): Pasukan paramiliter kuat pimpinan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti).
  • Titik didih terjadi pada 15 April 2023, ketika kedua pihak gagal menyepakati rencana integrasi RSF ke dalam militer nasional. RSF menolak bergabung karena khawatir akan kehilangan pengaruh politik dan ekonomi mereka, terutama atas kendali tambang emas.
2. Awal Pembantaian Etnis di Darfur

Meskipun pertempuran dimulai di ibu kota Khartoum, kekerasan paling mematikan terjadi di wilayah Darfur. RSF merupakan evolusi dari milisi Janjaweed yang terlibat dalam genosida Darfur awal 2000-an.
  • Eskalasi 2023: Pada Juni 2023, pembunuhan Gubernur Darfur Barat, Khamis Abakar, menandai dimulainya pembantaian etnis yang sistematis terhadap minoritas seperti suku Masalit, Fur, dan Zaghawa.
  • Metode Kekerasan: RSF dan milisi sekutunya dilaporkan melakukan eksekusi massal, serangan terhadap rumah sakit, dan penggunaan pembakaran desa untuk mengusir penduduk.
3. Puncak Tragedi El-Fasher (Oktober 2025)

Salah satu babak paling berdarah terjadi pada akhir 2025 di El-Fasher, ibu kota Darfur Utara.

  • Pengepungan 18 Bulan: RSF memblokade total kota ini, menyebabkan penduduk terpaksa memakan pakan ternak untuk bertahan hidup.
  • Serangan Oktober 2025: Setelah kota jatuh pada 26 Oktober 2025, dilaporkan lebih dari 2.000 warga sipil tewas dalam waktu singkat melalui eksekusi dan penyiksaan. Citra satelit mengonfirmasi adanya genangan darah dan mayat di jalanan saat warga mencoba melarikan diri.
4. Dampak Kemanusiaan Terkini (Awal 2026)

PBB menyebut krisis ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk abad ke-21.

  • Kelaparan Ekstrem: Sudan menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yang menghadapi kekurangan pangan akut akibat blokade bantuan.
  • Ekonomi Lumpuh: Nilai mata uang Pound Sudan jatuh drastis, menyebabkan harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
  • Gencatan Senjata: Pada November 2025, RSF mengumumkan gencatan senjata sepihak selama tiga bulan, namun situasi di lapangan tetap tegang karena militer (SAF) menuntut penarikan total pasukan RSF dari kota-kota besar.
Untuk informasi pemantauan bantuan kemanusiaan, Anda dapat merujuk pada situs resmi UNOCHA Sudan.

Posting Komentar

0 Komentar